Diwakili, tetapi Apakah Cukup?Catatan Kecil dari HUT ke-260 Kota Sungailiat

BANGKA, ERANEWS.CO.ID – Peringatan hari jadi ke 260 Kota Sungailiat semestinya menjadi momen yang bukan hanya meriah, tetapi juga penuh makna. Sebagai ibu kota Kabupaten Bangka, Sungailiat adalah simbol sejarah, identitas, dan kebanggaan masyarakatnya.

Namun pada tahun 2026 ini, ada satu hal yang mengundang tanda tanya: absennya Bupati dalam pembukaan dan penutupan acara, yang kemudian diwakili oleh Wakil Bupati. Secara administratif, hal ini sah. Tetapi dalam perspektif yang lebih luas, persoalannya tidak berhenti pada soal “siapa yang hadir”, melainkan apa makna dari kehadiran itu sendiri.

Kehadiran Bukan Sekadar Formalitas

Dalam praktik pemerintahan, tidak semua agenda harus dihadiri langsung oleh kepala daerah. Ada pembagian tugas, ada prioritas, dan ada keterbatasan waktu. Namun, momen seperti hari jadi kota bukanlah agenda biasa. Ia adalah ruang simbolik yang mempertemukan pemerintah dan masyarakat dalam satu ikatan sejarah.

Seorang pakar komunikasi Indonesia, Deddy Mulyana, pernah menegaskan bahwa:

_“Kita tidak bisa tidak berkomunikasi; bahkan ketika kita diam, kita tetap mengirimkan pesan.”_

Dalam konteks ini, ketidakhadiran pemimpin juga merupakan bentuk pesan, yang kemudian ditafsirkan oleh publik dengan berbagai cara.

Diwakili, tetapi Tetap Berbeda

Kehadiran Wakil Bupati tentu memastikan bahwa roda acara tetap berjalan. Namun, publik memahami bahwa ada perbedaan antara kehadiran langsung dan kehadiran melalui perwakilan.

Sosiolog Erving Goffman dalam karyanya tentang kehidupan sosial sebagai “panggung” mengingatkan bahwa:

_“Ketika individu tampil di hadapan publik, ia sedang menyampaikan peran dan makna tertentu kepada audiens.”_

Dalam konteks ini, peringatan HUT kota adalah panggung publik, dan kehadiran pemimpin adalah bagian dari pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat. Ketika aktor utama tidak tampil, panggung tetap berjalan, tetapi maknanya bisa terasa berbeda.

Ruang Tafsir yang Terbuka

Tanpa penjelasan yang memadai, publik akan mengisi kekosongan informasi dengan tafsirnya sendiri. Ada yang mungkin memaklumi karena alasan kesibukan, tetapi tidak sedikit pula yang mempertanyakan prioritas kepemimpinan.

Di sinilah pentingnya komunikasi yang sederhana tetapi jelas. Bukan untuk membela diri, melainkan untuk menjaga hubungan kepercayaan antara pemerintah dan masyarakat.

Kehadiran yang Dirasakan

Pada akhirnya, kepemimpinan tidak hanya diukur dari kebijakan besar, tetapi juga dari hal-hal sederhana yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Kehadiran dalam momen penting adalah salah satunya.

Perayaan 260 tahun Kota Sungailiat tetap berlangsung, tetap meriah, dan tetap berjalan. Namun pertanyaan kecil ini layak diajukan sebagai refleksi bersama:

_Ketika sebuah kota merayakan sejarahnya, apakah cukup jika pemimpinnya hanya diwakili atau justru yang dibutuhkan adalah kehadiran yang benar-benar dirasakan?_

Penulis : Zulkarnain Alijudin

Pengamat Sosial dan Politik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.