OPINI  

Upskilling & Reskilling: Investasi Wajib di Era Disrupsi

Oleh: Anggaraharja, S.H
Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Bangka Belitung

OPINI, ERANEWS.CO.ID – Perubahan dunia kerja hari ini tidak lagi berlangsung secara linier—ia melompat, bahkan kadang melonjak tanpa peringatan. Di tengah percepatan teknologi seperti Kecerdasan Buatan, otomatisasi, dan digitalisasi, satu hal menjadi semakin jelas: keterampilan yang relevan hari ini belum tentu bertahan esok hari.

Laporan Future of Jobs Report 2023 dari World Economic Forum bahkan memperkirakan sekitar 44% keterampilan pekerja akan berubah dalam lima tahun ke depan. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan sinyal kuat bahwa dunia kerja sedang bergerak lebih cepat daripada kesiapan banyak organisasi.

Namun, ironisnya, pengembangan sumber daya manusia masih kerap diperlakukan sebagai pelengkap, bukan kebutuhan utama. Pelatihan sering hadir sebagai formalitas—sekadar memenuhi agenda tahunan—bukan sebagai strategi untuk bertahan di tengah disrupsi. Di titik inilah, kita perlu jujur: apakah upskilling dan reskilling benar-benar telah diposisikan sebagai investasi, atau hanya ilusi kebijakan.

Ketika Dunia Berubah Lebih Cepat dari Kompetensi

Selama bertahun-tahun, kita terbiasa mengandalkan pendidikan formal sebagai fondasi kompetensi. Gelar akademik dianggap sebagai jaminan kesiapan kerja. Namun, realitas hari ini menunjukkan sebaliknya. Banyak pekerjaan baru muncul tanpa pernah diajarkan di bangku kuliah, sementara sejumlah keterampilan lama perlahan kehilangan relevansinya.

Kesenjangan antara kebutuhan industri dan kapasitas tenaga kerja semakin nyata. Di sinilah upskilling (peningkatan keterampilan) dan reskilling (pembelajaran keterampilan baru) menjadi krusial—bukan hanya untuk meningkatkan daya saing individu, tetapi juga untuk memastikan organisasi tidak tertinggal.

Sayangnya, tidak semua organisasi menyadari urgensi ini. Sebagian masih menganggap pelatihan sebagai biaya yang bisa ditunda, bukan investasi yang harus diprioritaskan. Padahal, ketika keterampilan tidak lagi relevan, biaya yang muncul justru jauh lebih besar—mulai dari turunnya produktivitas hingga hilangnya daya saing.

Disrupsi Tidak Menggantikan Manusia—Ia Menggantikan Ketidakmauan Belajar

Ada kekhawatiran yang sering muncul bahwa teknologi akan menggantikan manusia. Kekhawatiran ini tidak sepenuhnya keliru, tetapi juga tidak sepenuhnya tepat. Yang terjadi sebenarnya lebih spesifik—teknologi menggantikan pekerjaan yang stagnan, bukan manusia yang adaptif.

Hasil dari PwC’s 29th Global CEO Survey (2026) menunjukkan bahwa sebagian besar pemimpin bisnis global khawatir terhadap kesenjangan keterampilan dalam organisasinya. Ini menegaskan bahwa persoalan utama bukan pada teknologi, melainkan pada kesiapan manusia untuk beradaptasi.
Dengan kata lain, ancaman terbesar bukanlah disrupsi itu sendiri, melainkan ketidakmampuan untuk belajar ulang.

Organisasi yang gagal membangun sistem pembelajaran berkelanjutan akan menghadapi masalah yang sama: keterampilan karyawan tidak lagi selaras dengan kebutuhan organisasi. Akibatnya, produktivitas menurun, inovasi terhambat, dan pada akhirnya, daya saing melemah.

Antara Tanggung Jawab Individu dan Komitmen Organisasi

Diskursus tentang upskilling dan reskilling sering terjebak dalam perdebatan klasik: siapa yang bertanggung jawab? Apakah individu harus proaktif meningkatkan keterampilannya, atau organisasi yang wajib memfasilitasi.

Jawabannya seharusnya tidak dikotomis. Ini adalah tanggung jawab bersama.

Namun, realitasnya sering berbeda. Banyak organisasi menuntut karyawan untuk adaptif tanpa menyediakan ekosistem pembelajaran yang memadai. Di sisi lain, tidak sedikit individu yang menunggu difasilitasi tanpa inisiatif untuk berkembang.

Kebuntuan ini hanya bisa dipecahkan melalui kepemimpinan yang visioner—pemimpin yang tidak hanya berbicara tentang perubahan, tetapi juga menciptakan ruang bagi perubahan itu terjadi. Pemimpin yang memahami bahwa investasi terbesar bukan pada teknologi, melainkan pada manusia yang mengoperasikannya.

Dari Program Pelatihan ke Budaya Belajar

Salah satu kesalahan terbesar dalam pengelolaan SDM adalah menyamakan pelatihan dengan pembelajaran. Pelatihan bersifat sesaat; ia berhenti ketika sesi selesai. Sebaliknya, pembelajaran adalah proses berkelanjutan yang terintegrasi dalam keseharian kerja.

Organisasi yang benar-benar siap menghadapi disrupsi bukanlah yang paling sering mengadakan pelatihan, melainkan yang berhasil membangun budaya belajar. Lingkungan di mana karyawan didorong untuk bereksperimen, tidak takut gagal, dan terbiasa memperbarui keterampilannya.

Tanpa budaya ini, upskilling dan reskilling hanya akan menjadi jargon—terdengar penting, tetapi minim dampak.

Ujian Nyata bagi Sektor Publik
Bagi sektor publik, tantangan ini bahkan lebih kompleks. Transformasi digital yang sedang didorong pemerintah menuntut aparatur negara untuk memiliki kompetensi baru—mulai dari literasi digital hingga kemampuan analisis data.

Namun, transformasi tidak akan terjadi hanya dengan menghadirkan sistem baru. Tanpa peningkatan kapasitas SDM, teknologi justru berisiko menjadi beban tambahan, bukan solusi.
Laporan World Bank menegaskan bahwa kualitas keterampilan tenaga kerja masih menjadi salah satu tantangan utama dalam meningkatkan produktivitas. Ini menunjukkan bahwa transformasi sejati tidak hanya soal sistem, tetapi juga kesiapan manusia.

Penutup: Investasi atau Sekadar Retorika.

Upskilling dan reskilling sering disebut sebagai investasi masa depan. Namun, investasi selalu membutuhkan komitmen nyata—alokasi sumber daya, perubahan kebijakan, dan konsistensi implementasi.

Jika tidak, ia hanya akan menjadi retorika yang berulang dalam berbagai forum, tanpa pernah benar-benar mengubah apa pun.

Di era disrupsi, keunggulan tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling kuat, tetapi oleh siapa yang paling cepat belajar. Organisasi yang memahami hal ini akan melihat pengembangan SDM sebagai prioritas strategis. Sementara yang tidak, akan terus mengejar perubahan tanpa pernah benar-benar siap menghadapinya.

Pada akhirnya, sebuah pertanyaan sederhana tetapi menentukan: ketika dunia terus berubah, apakah kita ikut bergerak, atau memilih untuk tetap di tempat. (EraNews/Lew)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.