Foto ; Benteng Kuto Panji (Ist)
Penulis (Ari, Hanafi Jum’ah, Surya Ramadhan, Muhammad Ihsan al Ghifari, Sanju Anggara, Rifky Alrasyid)
ERANEWS.CO.ID — Bangka Belitung adalah pulau yang memiliki potensi sektor pariwisata yang banyak. Selain menjadi daerah penghasil timah, pulau Bangka juga memiliki berbagai objek wisata seperti, wisata pantai, pemandian, bukit, hutan mangrove, benteng, dan lain sebagainya.
Salah satu wisata yang ada di pulau Bangka adalah Benteng Kuto Panji yang berlokasi di Desa Kuto Panji, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka.
Benteng Kuto Panji didirikan oleh seorang raja berdarah Tiongkok yang bernama Bong Khiung Fu. Bong Khiung Fu melarikan diri ke Indonesia akibat konflik di tanah asalnya.
Setibanya di Kepulauan Bangka Belitung, ia mendirikan sebuah istana kecil sebagai tempat perlindungan bagi keluarganya. Seiring waktu, Bong Khiung Fu meminta izin kepada Sultan Palembang untuk membangun sebuah benteng, dan permohonannya disetujui.
Proses konstruksi benteng dimulai pada tahun 1664 dan selesai pada 1669. Benteng ini kemudian diberi nama Benteng Kuto Panji.
Saat ini, kondisi Benteng Kuto Panji telah mengalami keruntuhan, menyisakan fondasi dan beberapa dinding setinggi 4 meter yang masih berdiri (Ningsih, W. L., 2023). Benteng Kuto Panji adalah salah satu tempat bersejarah yang menyimpan nilai sejarah yang tinggi.
Sebagai warisan dari era kolonial, benteng ini memiliki potensi besar untuk dijadikan tujuan wisata unggulan. Namun, hingga saat ini, keberadaannya masih belum teroptimalkan. Salah satu langkah penting untuk mengangkat posisi Benteng Kuto Panji adalah melalui pengembangan pariwisata yang berlandaskan sejarah dan budaya, Serta dengan dukungan sarana dan prasarana yang lebih baik.
Penting untuk memahami potensi yang dimiliki Benteng Kuto Panji. Tempat ini bukan sekadar saksi bisu dari perjalanan sejarah di Bangka, melainkan juga merupakan warisan budaya yang bisa berfungsi sebagai sarana edukasi bagi generasi muda. Jika dikelola dengan baik, benteng ini dapat bertransformasi menjadi pusat pariwisata sejarah dan budaya yang maju.
Berdasarkan analisis data temuan lapangan, Kondisi sarana dan prasarana saat ini masih terdapat kekurangan seperti, Minimnya area istirahat seperti gazebo untuk wisatawan yang berkunjung, pemandu wisata yang jarang ada disekitaran area wisata membuat para wisatawan hanya sedikit mendaptkan nilai Sejarah dan budaya dari wisata benteng kunto panji, Minimnya UMKM atau kuliner lokal dan Yang lebih memprihatinkan, adanya kegiatan penambangan timah inkonvensional di dekat situs bersejarah ini dimana dapat merusak lingkungan dan mengganggu kenyamanan para pengunjung dalam hal menikmati keindahan lingkungan alam disekitaran Benteng Kuto Panji.
Melansir dari Bangka.Tribunnews.com (2017), Riyadi wartawan Bangka Pos mewancarai Penjaga Kelenteng Kuto panji yaitu Anyen ia mengatakan tujuan dibukanya TI di daerah itu karena nantinya hasil dari operasi TI untuk Pembangunan danau yang ada disekitar benteng kunto panji.
Meskipun ada pernyataan bahwa hasil dari kegiatan penambangan ini digunakan untuk pembangunan danau di sekitar benteng, aktivitas penambangan di area warisan budaya tetap sangat tidak ideal dalam hal pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan.
Hal ini tentu berpengaruh terhadap minat kunjungan, terutama dari wisatawan luar daerah maupun mancanegara. Dalam jangka panjang, kekurangan ini dapat membuat nilai sejarah dan budaya dari Benteng Kunto Panji terabaikan.
Menghadapi tantangan ini, perlu adanya upaya pengembangan yang terstruktur dan bersinergi. Pemerintah daerah bersama pihak wisata harus membangun sarana dan prasarana yang dimana nantinya bisa menigkatkan wisata itu sendiri. Ketertarikan wisatawan terhadap objek atatu destinasi wisata tidak lain karna merasa tertarik dengan kemudahan yang didapat melalui fasilitas (Aldila, D. S., & Farida, N., 2021).
Seperti halnya Pembangunan gazebo dan menyediakan pemandu wisata lokal yang memahami sejarah Benteng Kuto Panji agar pengunjung dapat merasakan pengalaman yang lebih bermakna.
Tak kalah pentingnya, pemberdayaan UMKM setempat juga harus diintegrasikan dalam rencana pengembangan wilayah. Penyediaan area kuliner khas Bangka, ruang suvenir, hingga festival budaya secara berkala dapat mendorong kunjungan ulang sekaligus menghidupkan ekonomi masyarakat.
Pemerintah atau pemangku dari wisata benteng kunto panji juga harus mendesain ulang zona aktivitas pertambangan agar tidak merusak daya tarik dan kenyamanan pariwisata dalam hal menikmati keindahan lingkungan nya.
Sebagai tambahan, promosi digital yang melibatkan komunitas sejarah, hingga siswa dan akademisi juga dapat mendongkrak keberadaan Benteng Kuto Panji di hadapan Masyarakat secara luas. Semua usaha ini harus dirancang dalam sebuah rencana induk pariwisata berkelanjutan yang menggabungkan nilai historis, budaya lokal, dan pelestarian lingkungan.
Sebagai salah satu warisan budaya yang kaya dengan nilai-nilai sejarah, Benteng Kuto Panji pantas mendapatkan perhatian dan pengelolaan yang lebih intensif. Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku pariwisata, benteng ini dapat dijadikan simbol wisata sejarah Bangka yang membanggakan, serta memberikan dampak positif bagi pelestarian budaya dan peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.
DAFTAR PUSTAKA
Ningsih, W. L. (2023, Oktober 5). Sejarah Benteng Kuto Panji di Bangka. Kompas.com.
Tribunnews Bangka. (2017, 7 Juni). Ini isi pemberitahuan di tepi lokasi TI di depan kelenteng dan benteng Kuto Panji. Tribunnews Bangka.
Putri, A. D. S., & Farida, N. (2020). Pengaruh fasilitas wisata dan kualitas pelayanan terhadap niat berkunjung kembali melalui kepuasan pengunjung (Studi obyek wisata Goa Kreo Kota Semarang). Jurnal Administrasi Bisnis, Vol. X(No. I), 781–793.
















Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.