Puisi  

Himpang dan Lima


By; ERWEES

Himpang Lima, tak jauh dari kantor pos lama dan bangunan tua
senja itu, aku duduk dengan isi kepala yang berpura-pura sibuk

tak jauh dariku, bersandar pada sebatang tiang,
kutengok seorang lelaki tua, berbaju hijau lumut yang nampak kusut, sepuntung rokok terselip di sela jarinya, padam? atau memang tak pernah ia nyalakan?

dari sela-sela kerumunan yang lalu lalang, nampak olehku tatapannya yang tajam kearah bianglala,
keriput di tepian matanya tak mampu menyembunyikan binar kekaguman yang terpancar

tak habis 30 detik, ia perlahan menoleh ke kanan, ada mungkin 45 derajat kukira
persis kearah pilar-pilar putih kokoh yang berdiri menjaga,
memastikan setiap warga bisa pulang dengan hati gembira

“ahh, apa pak tua itu suka kopi,” pikirku
ingin rasanya ku bawakan secangkir untuk nya, mungkin ditambah kue pancong beraroma kelapa yang khas, saat hangat akan terasa nikmat disantap bersama kopi

belum selesai aku dengan pikiranku, pak tua itu tiba-tiba berjalan mendekat
adalah sekitar 7 sampai 8 langkah kearahku

aku kikuk, kutatap wajahnya lalu senyum, ia tidak membalas, ia tetap berjalan perlahan, melewatiku sambil bergumam,
“tempat ini indah untuk menyimpan kenangan,” ucapnya sambil terus berjalan lalu hilang di ujung kerumunan

aku masih diam, benar saja, untuk banyak orang, Himpang lima, seperti selembar kertas putih tempat menulis kenangan
begitu pula untukku.

Himpang Lima bukan sekedar ikon atau lambang simbol kejayaan, bukan pula tentang anak2 yang menyebrangi jalan seperti biasanya, melainkan cuplikan sejarah, tentang 23 Tahun perjalanan yang terus berbenah

Selamat Ulang Tahun Kabupatenku, Dirgahayu untuk mu.

(“)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.