TOBOALI, ERANEWS.CO.ID – Jeritan hati petani sawit rakyat di pelosok Kabupaten Bangka Selatan (Basel) menggema menyusul anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) secara mendadak. Hanya dalam hitungan hari, harga komoditas primadona ini terjun bebas hingga menyentuh angka Rp1.650 per kilogram di tingkat pengumpul lokal wilayah Toboali, per Sabtu (23/5/2026).
Kejatuhan yang mencapai hampir 40% dari harga minggu lalu yang masih bertengger di kisaran Rp2.730 per kilogram ini, dinilai telah melukai marwah dan masa depan petani sawit rakyat di seluruh Indonesia.
Matoridi, atau yang akrab disapa Mator, seorang petani sawit asal Toboali, Bangka Selatan, mengungkapkan kekecewaan mendalam atas ketidakstabilan sistem tata kelola yang berdampak langsung pada isi dapur masyarakat bawah.
”Ibarat kita mau pindah rumah, rumah baru belum jelas, rumah lama sudah dirobohkan. Sistem tata kelola yang baru belum matang, tapi sistem yang lama sudah dihancurkan,” ujar Mator dengan nada getir kepada media pada Selasa (26/5/2025).
Mator mengaku heran dengan penurunan drastis yang terjadi secara instan ini. Pasalnya, ketika harga sawit hendak naik, prosesnya berjalan sangat lambat—hanya merangkak Rp50 hingga Rp100 per kilogram. Namun, begitu turun, harga langsung merosot tajam ke angka Rp1.600-an, padahal harga sawit di pasar dunia dilaporkan masih relatif stabil tinggi.
Petani mencurigai ambruknya harga di tingkat bawah merupakan imbas dari ‘perang dagang’ atau langkah tegas negara yang merasa dirugikan akibat ketidaksinkronan data ekspor di lapangan—sebagaimana yang terjadi pada komoditas mineral seperti nikel dan timah.
Namun, Mator menegaskan bahwa masyarakat kecil di desa-desa tidak mau tahu soal dinamika politik global atau geopolitik dunia tersebut.
”Kami masyarakat petani level bawah tidak kenal dengan dinamika politik perang dagang antarnegara. Kami hanya paham keberlangsungan periuk nasi kami di kampung-kampung, stabilitas harga BBM, harga bahan pokok, dan kelanjutan pendidikan anak-anak kami,” tegasnya.
Banyak petani di Bangka Belitung yang kini telah beralih fungsi dari petani karet dan sahang (lada) menjadi petani sawit karena mengira sawit menawarkan masa depan yang lebih pasti dan stabil. Apalagi, Indonesia memegang posisi strategis sebagai eksportir sawit terbesar di dunia.
Kenyataan di lapangan saat ini justru mencekik. Di tengah harga TBS yang terjun bebas, petani harus berhadapan dengan realita biaya perawatan kebun yang melambung tinggi.
“Pupuk mahal, biaya lapang kebun mahal, BBM mahal, racun rumput juga mahal. Sedangkan TBS terjun bebas,” keluh Mator.
Melalui momentum ini, Mator berharap aspirasi dari pelosok Bangka Selatan ini bisa didengar langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Sebuah kebijakan ekonomi makro, menurutnya, harus benar-benar matang memikirkan implikasi mikro hingga ke level desa terpencil, bukan hanya dilihat dari kacamata elit Jakarta yang jarang menyentuh pelaku ekonomi riil di kampung-kampung.
”Semoga ini menjadi renungan dan tersampaikan kepada Bapak Prabowo agar didengar dan disikapi secara bijak. Kita butuh keberlangsungan ekonomi rakyat yang berkeadilan buat semua. Sebagaimana sabda guru kita, Gus Dur, bahwa ‘Prabowo adalah seorang yang paling ikhlas berkorban untuk bangsa ini’. Kami tunggu keikhlasan dan kebijakan bijak Bapak untuk menyelamatkan nasib kami, petani sawit rakyat,” tutup Mator. (EraNews/Lew)














Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.