Oleh: Aboul A’la Almaududi
(Aktivis, Penulis, dan Pengamat Sosial Bangka Belitung)
BANGKA, ERANEWS.CO.ID – Pilkada Ulang 2025 di Kabupaten Bangka dan Kota Pangkalpinang akan segera digelar. Namun di tengah maraknya baliho dan aktivitas politik yang mulai menggeliat, muncul pertanyaan jujur dari masyarakat bawah: “Untuk apa Pilkada ini sebenarnya? Apakah untuk rakyat, atau sekadar rebutan kursi?”
Bu Yati, pedagang nasi uduk di daerah Belinyu, hanya tertawa saat ditanya soal calon yang akan dipilih.
“Yang penting dagangan saya laku dulu, Bang. Siapa pun yang jadi, belum tentu bantu saya,” katanya sambil membungkuskan pesanan pelanggan.
Kalimat sederhana itu mencerminkan kekecewaan yang menahun. Rakyat seolah menjadi alat politik saat menjelang pencoblosan, tapi dilupakan sesudahnya.
Ketika Janji Tak Lagi Sakral
Setiap Pilkada, rakyat disuguhi janji yang megah: pembangunan, lapangan kerja, pendidikan, dan pengentasan kemiskinan. Tapi di balik semua itu, masih banyak anak muda yang menganggur, UMKM yang tercekik modal, dan pelayanan publik yang belum merata.
Di Pangkalpinang, banyak anak muda memilih merantau ke luar daerah karena tidak melihat peluang hidup yang cukup di tanah sendiri.
“Saya pernah coba daftar kerja di empat tempat. Semua minta pengalaman atau ‘orang dalam’. Akhirnya nyambi jadi kurir,” kata Rafi, 21 tahun, warga Gabek.
Jika suara rakyat hanya dihargai saat musim kampanye, lalu dilupakan lima tahun kemudian, apa makna sebenarnya dari demokrasi ini?
Rakyat Sudah Tak Butuh Janji, Tapi Bukti
Pilkada ulang seharusnya menjadi momentum koreksi, bukan sekadar pengulangan kegaduhan.
Partai-partai Politik mesti sadar bahwa rakyat sekarang sudah jauh lebih cerdas dan lelah dengan sandiwara politik.
Orang tidak lagi antusias membicarakan visi-misi yang klise. Mereka ingin tahu:
Apakah ada program konkret untuk nelayan dan petani?
Bagaimana caranya membuka lapangan kerja lokal, bukan sekadar magang?
Bisakah pelayanan kesehatan di desa tidak berbelit dan manusiawi?
Momentum Kebangkitan Politik Rakyat
Pilkada ulang ini bisa jadi titik balik — jika para calon dan tim sukses mau turun menyentuh rakyat, bukan hanya mencetak spanduk.
Sudah saatnya kita melahirkan pemimpin baru yang dekat secara emosional dengan rakyat
Berani mendobrak sistem birokrasi yang lamban
Tidak hanya kuat di medsos, tapi juga hadir di lapangan
Akhirnya, Semua Tergantung Kita
Rakyat Bangka dan Pangkalpinang harus kembali menyalakan harapan. Pilih yang berpihak, bukan yang memihak. Pilih yang memberi solusi, bukan sekadar slogan. Pilih yang sudah terbukti, bukan yang hanya tampil mewah.
Karena Pilkada ini bukan soal siapa yang menang,
Tapi soal masa depan dapur rakyat dan harga diri demokrasi.














Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.