PANGKALPINANG,ERANEWS.CO.ID — Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap dunia pendidikan melalui kegiatan sosial yang menyasar para pelajar di Kota Pangkalpinang, Sabtu (2/5/2026).
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Pangkalpinang, Erwandy, mengapresiasi langkah INTI yang dinilai konsisten membantu masyarakat, khususnya di sektor pendidikan.
Menurutnya, bantuan yang diberikan sangat bermanfaat bagi siswa, terutama mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu.
“Tidak semua siswa kita berasal dari keluarga mampu. Masih banyak yang membutuhkan perhatian. Bantuan dari INTI ini tentu sangat membantu dan kami sangat berterima kasih atas kepedulian yang diberikan,” ujar Erwandy.
Ia menilai, selama ini INTI memiliki rekam jejak yang baik dalam kegiatan sosial di Pangkalpinang dan aktif berkontribusi membantu masyarakat melalui berbagai program.
Erwandy menjelaskan, kondisi peserta didik di Pangkalpinang sangat beragam, mulai dari yang mampu hingga kurang mampu. Oleh karena itu, menurutnya, dunia pendidikan tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah semata, melainkan membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak.
“Pendidikan ini tanggung jawab bersama. Kami berharap semakin banyak masyarakat yang peduli dan ikut berkontribusi seperti yang dilakukan INTI, demi kemajuan pendidikan di Pangkalpinang,” katanya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa pihaknya masih menemukan adanya Anak Tidak Sekolah (ATS) di wilayah tersebut. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menekan angka tersebut, salah satunya melalui pendataan dan intervensi langsung.
“Kami bekerja sama dengan Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) di setiap kelurahan. Total ada 42 PSM yang kami libatkan untuk mengidentifikasi anak-anak yang tidak sekolah,” jelasnya.
Selain itu, Disdikbud juga menggandeng aparat kepolisian, khususnya Polsek Gerunggang, untuk mendata anak-anak yang putus sekolah di wilayah tersebut agar dapat diarahkan kembali ke jalur pendidikan, baik formal maupun nonformal.
“Untuk pendidikan nonformal, kami arahkan ke PKBM melalui program Paket A, B, dan C sesuai dengan jenjangnya,” tambahnya.
Berdasarkan data tahun sebelumnya, Disdikbud mencatat sebanyak 167 anak masuk kategori ATS dan telah dilakukan intervensi. Namun, tidak semua anak bersedia kembali bersekolah.
“Kami berhasil membantu 68 anak melalui program beasiswa, masing-masing sekitar Rp1 juta per orang untuk mendukung pendidikan mereka,” ungkap Erwandy.
Ia menambahkan, faktor utama anak putus sekolah di Pangkalpinang masih didominasi masalah ekonomi dan kondisi keluarga, seperti broken home.
“Faktor ekonomi dan kondisi keluarga menjadi penyebab utama. Ini yang terus kami upayakan penanganannya agar anak-anak tetap mendapatkan hak pendidikan,” pungkasnya.
(*)




















Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.