BANGKA, ERANEWS.CO.ID – Rabu, 5 November 2025, menjadi babak baru bagi Kabupaten Bangka. Di ruang rapat Pasir Padi, Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Hidayat Arsani melantik pasangan Fery Insani–Syahbudin sebagai Bupati dan Wakil Bupati Bangka periode 2025–2030.
Seremonial yang khidmat itu menandai lebih dari sekadar pergantian kursi kekuasaan. Ia menjadi penanda lahirnya harapan baru—sekaligus ujian besar bagi dua figur yang datang dengan catatan panjang di dunia birokrasi dan politik daerah.
Dua Figur, Dua Latar, Satu Amanah
Fery Insani bukan wajah asing di jajaran pemerintahan. Kariernya menanjak dari Sekretaris Daerah Kabupaten Bangka hingga Kepala Bappeda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Ia dikenal teknokrat dengan pemahaman kuat soal tata kelola pembangunan.
Di sisi lain, Syahbudin datang dari jalur politik. Mantan anggota DPRD dan eks Wakil Bupati Bangka ini piawai menjalin komunikasi lintas partai dan tokoh masyarakat.
Keduanya kini duduk berdampingan di kursi tertinggi Bangka—menggabungkan rasionalitas birokrat dan insting politikus lapangan. Di atas kertas, kombinasi ini ideal. Tapi realitas pemerintahan tak sesederhana rumus teknokrasi.
Mesin Pemerintahan yang Perlu Dihidupkan Kembali
Salah satu tantangan awal mereka adalah menyalakan kembali mesin birokrasi yang kerap berjalan lamban. Program ada, anggaran tersedia, tapi hasilnya sering tak terasa di masyarakat.
Fery yang akrab dengan logika perencanaan Bappeda, ditunggu kiprahnya untuk mengubah paradigma kerja birokrat: dari sekadar menjalankan proyek menjadi menghasilkan dampak. Digitalisasi pelayanan publik dan reformasi disiplin aparatur bukan jargon—melainkan ujian pertama kepemimpinan mereka.
Dana Mengendap, Belanja Tak Efektif
Beberapa tahun terakhir, laporan tentang dana mengendap di kas daerah masih menghantui. Miliaran rupiah tertahan tanpa realisasi, menandakan lemahnya sinkronisasi antara rencana dan pelaksanaan.
Tugas Fery–Syahbudin bukan hanya membelanjakan uang rakyat, tapi memastikan setiap rupiah kembali dalam bentuk nyata: jalan yang bisa dilalui, sekolah yang layak, layanan publik yang terasa.
Syahbudin, dengan jejaring politiknya, diharapkan mampu meredam tarik-menarik kepentingan antara eksekutif dan legislatif—agar pembangunan tidak tersandera kompromi politik.
Sampah dan Lingkungan: Luka Lama yang Terbuka
Sungailiat dan kawasan wisata Bangka masih bergulat dengan masalah klasik: sampah yang menumpuk, pengelolaan limbah yang tak teratur.
Persoalan ini bukan sekadar kebersihan, tapi cermin tata kelola yang belum selesai.
Kepemimpinan baru perlu keluar dari pola lama. Mengelola sampah bukan sekadar mengangkut, tapi membangun sistem: ekonomi sirkular, keterlibatan masyarakat, dan edukasi lingkungan sejak dini.
Mencari Napas Baru Ekonomi Bangka
Ketergantungan Bangka pada timah sudah seperti napas panjang yang mulai pendek. Ketika harga timah turun, ekonomi daerah ikut sesak.
Fery–Syahbudin dihadapkan pada tugas menyiapkan oksigen baru bagi ekonomi lokal: memperkuat pertanian dan perikanan modern, mendorong UMKM dan industri kreatif, serta menjadikan pariwisata berkelanjutan sebagai sumber lapangan kerja baru.
Diversifikasi ekonomi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.
Pendidikan dan SDM: Menyemai Masa Depan
Di balik angka partisipasi sekolah yang tinggi, tersisa persoalan kualitas. Kurikulum yang belum sinkron dengan dunia kerja membuat banyak lulusan hanya menambah barisan pengangguran terdidik.
Pemerintahan baru perlu menautkan sekolah, industri, dan kebijakan. Pendidikan vokasi harus melahirkan tenaga siap kerja, bukan sekadar lulusan bersertifikat.
Politik, Kepercayaan, dan Harapan Publik
Kemenangan di pilkada tidak otomatis menjamin stabilitas. Hubungan harmonis dengan DPRD, partai politik, dan tokoh masyarakat akan menentukan kelancaran program.
Namun di atas semua itu, yang paling krusial adalah kepercayaan publik.
Rakyat Bangka hari ini lebih kritis. Mereka tidak lagi menunggu janji, tapi menagih bukti. Pemerintahan Fery–Syahbudin dituntut transparan, komunikatif, dan terbuka. Karena tanpa kepercayaan, program sehebat apa pun akan kehilangan daya hidupnya.
Momentum untuk Bangka Lebih Baik
Fery dan Syahbudin tidak memulai dari nol. Mereka mewarisi kabupaten dengan potensi besar sekaligus masalah yang tak kecil.
Sebagai birokrat berpengalaman dan politisi senior, keduanya punya bekal cukup. Tapi rakyat tak menunggu strategi di atas kertas. Mereka menunggu tindakan—hari ini, bukan esok.
Kini, waktu yang akan membuktikan: apakah pengalaman panjang keduanya akan menjelma menjadi perubahan nyata.
Bangka menanti, dengan harapan sederhana: pemerintahan yang bekerja, bersih, dan berpihak pada warganya.














Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.