TOBOALI, ERANEWS.CO.ID – Kesenjangan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Bangka Selatan (Basel) dibandingkan dengan daerah lain di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung kini menjadi sorotan tajam. Disparitas harga yang mencolok ini dinilai telah mengoyak rasa keadilan bagi para petani lokal yang tengah berjuang di tengah himpitan ekonomi.
Pengamat Kebijakan Publik Bangka Selatan, Matoridi, mengungkapkan keprihatinannya atas kondisi harga TBS di Basel yang terpuruk di angka Rp2.900, menjadi yang terendah di seluruh wilayah Bangka Belitung.
Menurut Matoridi, salah satu akar masalah yang sering dijadikan alasan adalah status kawasan hutan. Namun, ia menegaskan bahwa status tersebut merupakan produk kebijakan “tendensius” pejabat Sumatera Selatan di masa lalu yang hingga kini dampaknya justru mencekik petani di Bangka Selatan.
”Dimana letak keadilan bagi petani sawit Basel, Apakah hanya karena status hutan, petani harus menanggung beban ini, Ini adalah warisan kebijakan masa lalu yang sangat merugikan kita sekarang,” ujar Matoridi dengan nada tegas saat dikonfirmasi via whatsapp pada Minggu (12/4/2026).
Kondisi ini kian memprihatinkan mengingat biaya sarana produksi pertanian tidak ikut turun. Matoridi menyoroti kontradiksi antara harga jual petani dengan biaya modal yang terus membubung tinggi.
Harga Pupuk: Terus merangkak naik.
Harga Pestisida/Racun: Kian mahal.
Harga Lahan: Semakin sulit dijangkau.
”Sementara biaya produksi naik drastis, harga TBS kita justru terpuruk. Kami merasa seperti dianak-tirikan di negeri sendiri. Di mana kehadiran negara saat rakyat tani menjerit seperti ini,” tambahnya.
Rasa kecewa yang mendalam terhadap para pemangku kebijakan mulai memicu sikap apatis di kalangan masyarakat terhadap dunia politik. Matoridi mensinyalir bahwa jika tidak ada langkah nyata dari pemerintah provinsi maupun pusat, para petani siap untuk menyuarakan aspirasi mereka secara langsung melalui Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPRD Provinsi.
”Para pemimpin seolah-olah tuli. Mereka tahu, mereka paham, tapi seolah dibiarkan. Kami berharap para petinggi negeri masih memiliki nurani untuk peduli pada nasib petani sawit Basel, apalagi mengingat sektor tambang timah yang saat ini kian suram,” ungkapnya.
Untuk diketahui, Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan melalui Dinas Pertanian dikabarkan tidak akan tinggal diam. Dalam waktu dekat, Pemkab berencana akan memanggil sejumlah perusahaan sawit yang beroperasi di wilayah tersebut untuk mengklarifikasi sekaligus mencari solusi atas rendahnya harga beli di tingkat petani.
Langkah ini diharapkan mampu membedah benang kusut disparitas harga dan mengembalikan kesejahteraan petani sawit di Bangka Selatan ke level yang adil dan manusiawi. (EraNews/Lew)














Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.