Aksi Penolakan KIP Timah Belum Ada Kepastian

SUNGAILIAT, ERANEWS.CO.ID — Aksi nelayan yang menolak adanya aktivitas pertambangan laut milik mitra PT Timah Tbk terus bergejolak di Pantai Matras Sungailiat Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel).

Sudah tiga hari sebanyak ratusan nelayan bertahan diwilayah Pantai Matras, mereka rela tidak bekerja dan harus meninggalkan rumah untuk bergabung dengan nelayan lainnya dari berbagai daerah mulai dari Pesaren dan Tuing Kecamatan Belinyu Aik Antu Bedukang Kecamatan Riau Silip hingga Sungailiat.

Kali ini para Nelayan , selesai Ba’da Dzuhur, masyarakat kontra tambang laut matras menggelar do’a bersama di pesisir Pantai Mantras, Rabu, (11/11/ 20).

Para kesempatan itu nelayan mendoakan agar pemerintah serta perusahaan PT Timah Tbk hengkang dari perairan laut matras. Karena terkait hal ini masyarakat resah dengan kapal KIP yang ada diperairan Matras.

Tak berselang waktu lama ada salah seorang nelayan mencoba membakar perahu miliknya sendiri, sebagai bentuk kekecewaan kepada pemerintah, aparat keamanan dan perusahaan yang tidak menggubris keinginan mereka supaya kapal isap produksi (KIP) pindah dari Perairan Pantai Matras.

Aksi tak terduga tersebut dilakukan Junaidi (48) salah seorang nelayan, ketika nelayan lainnya sedang istirahat di pondok.

Secara tiba-tiba, Junaidi yang memegang botol mineral berisikan bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin, berlari ke perahunya sembari menyiram BBM. Untungnya, aksi itu diketahui nelayan lain sebelum Junaidi mengeluarkan korek api dari saku celananya.

Junaidi pun langsung diamankan rekan-rekannya menjauh dari perahu yang sudah beraroma BBM tersebut.

“Inilah bentuk kekecewaan teman kami, untung masih bisa ditahan dan diamankan rekan-rekan lainnya,” kata Ketua Nelayan Aik Antu Dusun Bedukang, ungkap Ngikiw.

“Bagaimana tidak kecewa, kami disini turun temurun mencari nafkah untuk keluarga sejak zaman kakek nenek kami, tiba-tiba dirusak dengan aktivitas tambang,” sambungnya.

Ngikiw mengatakan, percobaan Junaidi membakar perahu disebabkan kekecewaan nelayan, setelah aksi nelayan sebelumnya tidak digubris oleh pemerintah daerah, aparat keamanan dan perusahaan untuk tidak beraktivitas dan memindahkan KIP dari Perairan Matras.

Lanjut Ngikiw, Iya berpikir untuk apa lagi perahunya jika tidak bisa melaut lagi, tidak bisa mencari nafkah lagi. Apalagi perahu ukuran kecil disini tidak bisa menjangkau laut lepas, ya di Matras ini saja bisanya,”

“Ini baru satu, entah dengan yang lainnya, kami tidak bisa berbuat apa-apa lagi, hanya bisa berpesan supaya tidak merugikan diri sendiri,” tegasnya Ngikiw.

Kami akan terus bertahan disini, semuanya siap memperjuangkannya, kendati harus melawan kapal perang, kapal kepolisian, helikopter serta senjata aparat keamanan,” paparnya.
Pada Intinya, kami memperjuangkan hak kami selaku rakyat kecil, supaya bisa bekerja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari,” pungkasnya.

(eranews/eq)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.