Muscab PPBI Pangkalpinang 2026, Pemkot Dorong Pelestarian Bonsai Endemik dan Penguatan Ekonomi UMKM

PANGKALPINANG, ERANEWS.CO.ID – Musyawarah Cabang (Muscab) Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Cabang Pangkalpinang digelar di ruang rapat Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kota Pangkalpinang, Sabtu (16/5/2026). Kegiatan tersebut menjadi momentum evaluasi kepengurusan sekaligus penguatan komitmen pelestarian bonsai khas daerah.

Ketua PPBI Cabang Pangkalpinang, Eddy Iskandar mengatakan bahwa selama empat tahun masa kepengurusan, berbagai program organisasi telah berjalan dengan baik berkat dukungan para anggota dan berbagai pihak. Eddy mengakui masih terdapat sejumlah program yang belum terlaksana secara maksimal dan berharap dapat diwujudkan pada masa kepengurusan berikutnya.

“Evaluasi tentu menjadi bagian penting dari perjalanan organisasi. Kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan dan dukungan semua pihak sehingga berbagai kegiatan dapat dilaksanakan dengan cukup baik,” ujarnya.

Menurut Eddy, PPBI tidak hanya hadir sebagai wadah para penghobi bonsai, tetapi juga memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, terutama pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Pihaknya selalu melibatkan UMKM di setiap event yang digelar.

“Jadi ada multiplier effect yang dirasakan secara ekonomi,, tentunya keberadaan kita juga mendukung pertumbuhan ekonomi lokal,” katanya.

Eddy juga menyoroti keberadaan tanaman bonsai endemik khas Bangka Belitung seperti bonsai sapu-sapu dan kongkit yang kini menjadi favorit para kolektor. Bahkan, menurutnya, nilai ekonomi tanaman tersebut terus meningkat dan mampu menghasilkan keuntungan bernilai jutaan rupiah.

“Bonsai sapu-sapu ini menjadi kebanggaan kita. Banyak kolektor yang tertarik dan dari hobi bonsai ini juga muncul nilai ekonomi yang besar,” ungkapnya.

Sementara itu, Asisten I Pemerintah Kota Pangkalpinang, Agustu Efendi, yang mewakili Wali Kota Pangkalpinang, Prof Saparudin, berharap Muscab PPBI dapat melahirkan kepengurusan yang berkualitas dan mampu memajukan komunitas bonsai di Pangkalpinang. Ia menilai keberadaan bonsai tidak terlepas dari kearifan lokal yang perlu terus dijaga dan dilestarikan, terlebih di tengah kondisi Pangkalpinang sebagai daerah perkotaan.

“Di Pangkalpinang yang merupakan daerah perkotaan, tanaman bonsai masih tetap lestari. Ini harus kita jaga bersama,” ujarnya.

Agustu juga mendorong PPBI untuk terus mengembangkan kreativitas dan inovasi dalam seni bonsai agar memiliki daya tarik dan nilai jual yang lebih tinggi. Ia mencontohkan berbagai model bonsai seperti gaya air terjun yang memiliki nilai estetika tinggi dan diminati pasar.

Lebih lanjut, Agustu mengungkapkan pentingnya perlindungan terhadap tanaman endemik khas daerah agar tidak diklaim oleh daerah maupun negara lain. Untuk itu, ia mendorong adanya pengusulan hak kekayaan budaya terhadap bonsai sapu-sapu dan kongkit sebagai ciri khas Pangkalpinang.

“Saya berharap tanaman khas seperti sapu-sapu dan kongkit bisa diajukan sebagai cagar budaya benda atau bentuk perlindungan lainnya. Jangan sampai menjadi ciri khas daerah lain. Kalau itu terlindungi, tentu nilai jual dan nilai tambah daerah juga semakin tinggi,” katanya.

Selain itu, Agustu juga mendorong PPBI untuk mulai memperkenalkan bonsai kepada generasi muda melalui kegiatan edukasi di sekolah-sekolah. Menurutnya, kecintaan terhadap bonsai perlu ditanamkan sejak dini seperti yang dilakukan di Jepang.

“Bonsai ini bukan sekadar memotong tanaman, ada teknik dan seni di dalamnya. Kalau anak-anak dikenalkan sejak awal, ini bisa menjadi kegiatan positif dan mengurangi ketergantungan terhadap gadget,” tuturnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.