Jubir RIDHO Sentil Narasi Ketakutan dari Kubu Betuah : “Menolak Debat Bukan Tanda Panik”

BANGKA, ERANEWS.CO.ID – Pernyataan relawan pasangan calon Rato-Ramadian ‘Betuah’ yang menyebut empat pasangan calon lain tengah “takut dan panik” karena menolak hadir dalam debat kandidat, menuai tanggapan dari kubu Fery-Syahbudin ‘RIDHO’. Juru bicara RIDHO, Mendra Kurniawan, balik menyentil narasi tersebut sebagai “analisis serampangan yang dibuat-buat demi membangun panggung drama politik.”

“Menolak hadir dalam debat bukan berarti takut. Itu pilihan strategis yang sah. Jangan dipelintir seolah-olah menjadi indikator keberanian atau ketakutan,” ujar Mendra saat ditemui awak media di Posko Pemenangan RIDHO, Sabtu, (9/8/2025).

“Keempat Paslon ini sepakat tidak ingin menghadiri debat kandidat karena dalam PKPU mengatur tidak bisa mengikuti kegiatan tersebut dengan alasan tertentu itu diperbolehkan. Jadi paslon nomor satu RIDHO kenapa sepakat ambil keputusan itu karena alasan itu,” sambung politisi senior Partai Gerindra ini.

Mendra yang saat ini menjabat sebagai Ketua Komisi 3 DPRD Bangka menilai, narasi ketakutan yang dilontarkan kubu Betuah mencerminkan kegagalan memahami dinamika politik secara utuh. Ia menegaskan, keputusan untuk tidak menghadiri debat kandidat telah dikaji secara matang oleh timnya bersama tiga paslon lain. 

“Kami sudah menyampaikan keberatan secara terbuka dengan ketiga paslon lainnya pada hari Kamis, 7 Agustus kemarin. Sikap ini kami ambil sebagai bentuk kekecewaan atas kinerja KPUD Bangka,” jelasnya.

Sebelumnya, relawan paslon Betuah menyebut bahwa sikap empat paslon yang secara kompak menolak hadir dalam debat adalah bukti bahwa pasangan Rato-Ramadian mulai dianggap sebagai ancaman serius dalam kontestasi Pilkada Kabupaten Bangka.

Namun Mendra balik bertanya, siapa yang sebenarnya sedang panik jika satu paslon begitu sibuk mengomentari absennya lawan dari panggung debat.

“Jangan-jangan justru mereka yang sedang gelisah dan gugup karena panggung kosong. Harusnya ini jadi refleksi: kalau semua lawanmu memilih tidak datang, mungkin ada yang salah dengan acaranya, bukan lawannya,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa masyarakat saat ini tak lagi terpaku pada debat formal yang penuh jargon. Justru, kata dia, publik lebih menghargai konsistensi kehadiran kandidat di tengah-tengah warga dan sikap konkret atas isu-isu krusial.

“Kami bertemu warga setiap hari. Kami turun ke pasar, ke kampung-kampung. Itu debat sesungguhnya, bukan panggung yang diatur,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.