BANGKA, ERANEWS.CO.ID – Menyambut pelaksanaan Pilkada ulang tahun 2025–2030 di Kota Pangkalpinang dan Kabupaten Bangka, Ketua DPD Garda Relawan Indonesia Semesta (GARIS) Bangka Belitung, Aboul A’la Almaududi, SH, menyampaikan pesan penting kepada seluruh kontestan politik dan masyarakat. Didampingi oleh Sekretaris DPD GARIS Babel, Dodi Hendriyanto, Aboul menegaskan bahwa politik harus dijalankan secara elegan, santun, dan mengedepankan nurani, bukan dengan intimidasi atau narasi permusuhan. (15/06/2025)
Menurutnya, politik jangan menakut-nakuti rakyat apalagi memaksakan kehendak. “Politik itu soal pilihan hati, bukan tekanan. Jangan merasa paling benar sendiri lalu menganggap yang lain salah. Itu bukan watak demokrasi yang dewasa,” tegas Aboul.
Pernyataan ini muncul saat sejumlah nama kandidat mulai disebut-sebut akan mengantongi rekomendasi resmi dari partai-partai politik, termasuk Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang kerap disebut sebagai poros kekuatan utama dalam konstelasi Pilkada Bangka Belitung.
Aboul mengajak masyarakat serta para bakal calon kepala daerah untuk bersabar dan menghormati mekanisme internal partai. Ia menilai, setiap partai tentu memiliki pertimbangan dan prosedur dalam mengeluarkan surat rekomendasi kepada kandidat yang dianggap paling layak.
Ia menambahkan, “Jika rekomendasi sudah keluar, siapa pun yang mendapatkannya harus menggunakan kepercayaan itu dengan bijak. Jangan membuat narasi provokatif. Lebih baik gentleman saja. Gunakan sisa waktu yang ada untuk menyapa rakyat dengan cara simpatik, bukan retorika konflik.” Tukas Aboul.
GARIS sebagai organisasi relawan nasional yang menjunjung nilai-nilai kebangsaan dan etika politik, mendorong seluruh pihak menjaga kondusivitas politik lokal. Dalam menghadapi dinamika Pilkada, menurut Aboul, semua pihak harus saling menghargai, termasuk kepada kompetitor politik.
Dengan sikap tegas namun menyejukkan, DPD GARIS Bangka Belitung di bawah kepemimpinan Aboul A’la Almaududi menunjukkan posisi strategisnya sebagai kekuatan moral dalam kancah politik lokal. Bukan sekadar menjadi relawan, GARIS hadir sebagai penjaga etika demokrasi—menjadi pengingat bahwa politik adalah sarana memperbaiki kehidupan rakyat, bukan ajang pertarungan ego dan kekuasaan.
“Kita ingin Pilkada menjadi panggung yang membangkitkan harapan, bukan menyulut perpecahan. Rakyat harus jadi pusat, bukan sekadar target. GARIS akan berdiri di barisan yang menjaga agar semangat kebangsaan dan etika tetap hidup dalam setiap langkah politik,” ungkapnya.
Sebagai garda relawan yang menamakan diri Garda Relawan Indonesia Semesta, GARIS mengusung nilai-nilai kebhinekaan, inklusivitas, dan kemanusiaan. Dalam semangat itulah, GARIS Babel menyerukan agar seluruh elemen bangsa—khususnya di Bangka Belitung—menyambut pesta demokrasi ini dengan hati terbuka, pikiran jernih, dan semangat persaudaraan.
GARIS percaya bahwa perubahan besar tidak hanya ditentukan oleh siapa yang terpilih, tetapi juga bagaimana cara kita memilih dan menyikapi perbedaan. Oleh karena itu, Pilkada kali ini harus menjadi momentum kolektif untuk membangun peradaban politik yang lebih matang, bermartabat, dan berpihak pada rakyat.














Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.