Opini Oleh Chairul Aprizal SKM Tenaga Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku
OPINI, ERANEWS.CO.ID – Melihat secara optimis pemerintahan yang sedang dipimpin oleh Prabowo-Gibran sebagai Presiden dan Wakil Presiden ini tampak sangat konsentrasi terhadap dunia pendidikan. Salah satunya dengan memaksimalkan program unggulannya yaitu Makanan Bergizi Gratis yang disingkat MBG. Program ini diinisiasi kan sebagai investasi gizi kepada anak-anak sekolah agar memiliki tumbuh kembang yang optimal untuk mendukung cita-cita Bangsa di kemudian hari.
Tentunya tidak terlepas dari masa depan generasi bangsa ini, masalah kesehatan yang dihadapi pada dunia pendidikan ternyata tidak sesederhana persoalan gizi saja. Banyak sekali berita yang mengancam kesehatan anak di dunia pendidikan yang urgen. Berita tentang kasus bullying di sekolah, angka perokok remaja yang terus mengalami peningkatan, hingga banyaknya kasus kekerasan seksual pada anak yang terus menghantui adalah sebuah rambu kuning yang wajib diperhatikan. Semua kejadian ini adalah masalah serius pada kesehatan anak tidak sekedar gizi saja.
Semua peneliti sepakat kalau kesehatan sangat berhubungan kuat dengan perilaku manusia. Sehingga untuk meningkatkan derajat kesehatan perlu adanya peningkatan perilaku manusia itu sendiri. Sederhananya kesehatan tidak bisa diajarkan secara instan, atau hanya sebatas sosialisasi dan himbauan saja. Harus memiliki pondasi dan akar untuk menciptakan perubahan perilaku manusia. Perubahan perilaku membutuhkan waktu, kebiasaan, budaya yang kuat, dan lingkungan yang mendukung. Maka dari sinilah peran dunia pendidikan sangat penting.
Sebagai rumah besar pendidikan sekolah bukan hanya menjadi tempat belajar menulis, membaca, ataupun berhitung, tetapi menjadi laboratorium untuk membentuk karakter, dan gaya hidup anak. Maka dengan memasukkan pembelajaran kesehatan ke dalam kurikulum pendidikan di sekolah adalah penting dan mendesak.
Fakta Penting.
Kekerasan Terhadap Anak dan Kekerasan Seksual. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) menyebutkan jumlah kasus kekerasan terhadap mengalami peningkatan signifikan pada tahun 2022 sebanyak 16.106 kasus yang sebelumnya pada tahun 2021 sebanyak 14.517 kasus. Angka kasus yang besar ini selebihnya didominasi oleh kasus kekerasan seksual yang mencapai 9.588 kasus.
Lebih baru lagi, Media and Brand Manager Save The Children Indonesian, mengungkapkan sepanjang tahun 2024 sebanyak 14.193 kasus kekerasan anak yang dilaporkan, ada sebanyak 8.674 kasus kekerasan seksual yang mendominasi laporan tersebut. Dengan kata lain, menunjukkan bahwa saat ini anak-anak berada dalam lingkungan yang sangat tidak aman.
Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) pada tahun yang sama mengungkap 1 dari 4 perempuan di Indonesia pernah mengalami kekerasan fisik dan atau kekerasan seksual sepanjang hidupnya. Dan Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) serentak juga mengungkapkan 9 dari 100 anak pada usia 13-17 tahun pernah mengalami kasus kekerasan seksual sepanjang hidupnya.
Perilaku Merokok Pada Remaja. Dikutip dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) pada tahun 2023, total perokok aktif di Indonesia diperkirakan sebanyak 70 juta orang dan 7,4 persen diantaranya adalah anak usia 10-18 tahun. Pada rentang usia 15-19 tahun, prevalensi merokok adalah 56.5 persen dan pada usia 10-14 tahun sekitar 18,4 persen dari kelompok aktif.
Kasus Bullying siswa pelajar. Hingga sampai detik ini kasus bullying di sekolah masih terdengar tidak asing di telinga kita bahkan terjadi disekitar kita. Bullying tidak hanya perlu ditindaklanjuti secara hukum antara pelaku dan korban saja tetapi harus ada sistem pencegahan dari akar. Ada sebuah penelitian independen bahkan menemukan tingkat pengetahuan yang rendah tentang bullying di sekolah (59,1 persen) pada salah satu sekolah dari 88 siswa yang dijadikan sampel. 77 kasus bullying (pelaku dan korban) terdiri dari 49 pelaku (55,7 persen) dan 28 korban (31,8 persen).
Kesehatan itu berkaitan dengan perilaku, khusus untuk menyiapkan masa depan generasi bangsa maka dirasa kesehatan anak bukan hanya menjadi urusan keluarga tetapi juga sosial masyarakat. Ada dampak sosial yang tidak terlihat akibat kekerasan pada anak yang belum terbendung. Generasi muda yang sakit, trauma, atau terbiasa dengan perilaku berisiko akan sulit menjadi generasi emas di masa depan.
Setiap sekolah sudah ada guru BK (Bimbingan dan Konseling), kenapa mesti masuk dalam kurikulum ? Guru BK bukan satu-satunya penjaga. Selama ini peran guru BK sudah baik untuk mencegah dan menangani permasalahan individu remaja di dunia pendidikan. Memberikan konseling, mendeteksi dini problem siswa, dan pendampingan yang terukur. Tanpa disadari guru BK itu menghadapi permasalahan siswa yang lebih kompleks dan tidak sederhana sekarang dengan kejadian kejadian saat ini. Sementara itu guru BK hanya salah satu bagian dari ekosistem sekolah.
Lihat saja yang dihadapi mereka, jumlah siswa yang lebih banyak dibanding kapasitas guru BK nya. Idealnya 1 orang guru BK itu menangani kurang lebih 150 siswa, namun tidak sedikit guru BK yang harus menangani lebih dari kapasitasnya. Sebagai guru BK tidak hanya berurusan dengan siswa, ada beban administrasi yang dipikulnya sehingga mengurangi kesempatan untuk konseling mendalam dengan siswa. Pemberdayaan guru BK seperti pelatihan terhadap isu isu relevan atau baru seperti kekerasan seksual, bullying atau cyber bullying, dan kesehatan mental masih kurang diberikan.
Masalah yang dihadapinya lebih struktural. Kasus-kasus seperti bullying, kekerasan seksual, atau perilaku merokok (kenakalan) tidak bisa hanya jadi urusan guru BK. Misalnya Bullying, apakah sekolah punya kebijakan anti bullying yang jelas dan tegas ? Merokok dan kekerasan, apakah sekolah memberikan pengetahuan tentang bahaya merokok dan cara melapor sebagai korban kekerasan ? Orangtua terlibat, apakah orangtua juga di edukasi untuk mendeteksi tanda-tanda masalah pada anak ?
Literasi Kesehatan Lemah
Akar masalahnya adalah pada literasi kesehatan yang lemah di dunia pendidikan. Ketika ada permasalahan menyangkut anak di sekolah seringkali kambinghitamnya tertuju pada orangtua atau anak itu sendiri. Padahal anak-anak ini tumbuh dalam ekosistem yang tidak mendapatkan bekal cukup tentang pemahaman kesehatan. Edukasi tentang gizi, kebersihan, kesehatan reproduksi, kesehatan mental, atau keterampilan sosial yang dianggap tabu. Sebagian dari anak-anak ini yang sudah mengakses media sosial mencari tahu sendiri jawabannya yang tidak akurat.
Kenapa penting kesehatan masuk dalam sistemik kurikulum pendidikan. Karena merubah perilaku membutuhkan waktu. Mengapa merokok berbahaya, bagaimana menjaga kesehatan mental dan reproduksi, apa yang harus dilakukan ketika mengalami kekerasan atau pelecehan seksual, dan membiasakan pola hidup sehat yang benar. Tentu tidak akan berhasil hanya sekali seminar, sosialisasi, penyuluhan, tetapi menjadi bagian dari kurikulum pendidikan berkelanjutan.
Anak-anak yang saat ini diberikan Makanan Bergizi Gratis, apakah tahu manfaatnya dalam jangka waktu panjang ? Mereka menyangka ini sebatas mengisi perut kosong dan menghemat uang jajan disekolah saja. Bahkan yang sangat disayangkan siswa ikut mengolok-olok menu makanan yang telah diberikan dan menyebarluaskannya di media sosial. Walaupun konsep pelaksanaan MBG ini masih terkesan formalitas dan hanya berujung kepentingan daripada asas manfaatnya.
Kesehatan Dalam Kurikulum: Sebuah investasi .
Sudah saatnya pendidikan mulai merancang kurikulum baru yang berkaitan dengan bahan ajar tentang kesehatan kepada siswa. Berangkat dari latar belakang permasalahan yang muncul kepada siswa saat ini menjadikannya alasan kuat untuk dirumuskan. Kesehatan sebagai mata pelajaran merupakan sebuah bentuk investasi. Dengan prinsip Pertama konsistensi dan kesinambungan tidak sekali lewat atau disisipkan dari bahan ajar lain . kedua kedalaman materi sehingga anak mendapatkan ilmu yang komprehensif tentang gizi, kesehatan mental, gaya hidup sehat, kesehatan reproduksi, pencegahan kekerasan, pergaulan bebas, bahaya merokok, dan bahaya narkoba. Ketiga penilaian yang jelas jika dijadikan mata pelajaran maka ada evaluasi berkesinambungan (ulangan, tugas, proyek, portofolio) sehingga membuat anak memahami dan mengubah perilaku. Keempat profesionalisasi guru dengan menyiapkan guru khusus dengan pelatihan kesehatan dan psikologi pendidikan.
Dengan adanya kurikulum kesehatan dalam pendidikan akan memberikan manfaat jangka panjang yang disebut sebagai investasi dalam dunia pendidikan dan kesehatan. Mampus menurunkan prevalensi stunting, perokok pemula, dan kasus bullying. Menghemat biaya kesehatan Bangsa di masa depan. Rumusan ini tentunya sangat mendukung apa yang menjadi cita-cita presiden ke 8 saat ini dari proyek makanan bergizi gratis yakni investasi gizi generasi. (EraNews/Lew)














Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.