TOBOALI, ERANEWS.CO.ID- Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan menggelar konsultasi publik terkait revisi rencana tata ruang wilayah (RTRW) dan kajian lingkungan hidup strategis Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2022 di Gedung Serbaguna, Selasa (13/12/2022).
Pada acara konsultasi tersebut juga dihadiri Kepala Bappeda Bangka Selatan, Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Bangka Selatan, Asisten Setda Bangka Selatan, Kepala OPD Terkait Pemkab Bangka Selatan, Para Kepala Desa yang ada di Bangka Selatan, Badan Pertanahan Nasional (BPN) Bangka Selatan, Camat dan Lurah yang ada di Bangka Selatan serta tamu undangan lainnya.
Kepala Bappeda, Herman mengatakan bahwa sudah di mulai dari tahun 2021 dan tahun 2022 terkait revisi RTRW ini dilakukan.
“Dan untuk tahun 2023 itu nantinya kami support terus terkait masalah anggarannya, dan juga kegiatan-kegiatan untuk mendukung penyelesaian batas desa itu,” ungkapnya.
Dirinya menambahkan, untuk tahun depan setelah mendapatkan kabar dari kawan-kawan Pemerintah Desa (Pemdes) Bangka Selatan itu setidaknya tidak mencapai 100 persen tapi ada beberapa desa yang sudah harus diselesaikan.
“Dapat kabar dari kawan-kawan yang ada di Pemdes walaupun tidak mencapai 100 persen tapi ada beberapa desa yang sudah harus diselesaikan,” ujarnya.
Sementara itu Sub Koordinator Penataan Ruang dinas PUPR Bangka Selatan, Rian Ganesha seizin Kepala Dinas PUPR Bangka Selatan Achmad Ansyori menyebutkan kegiatan ini dilakukan merupakan salah satu tahapan penting.
“Terutama ini merupakan rangkaian daripada 2019 yang sudah kita lakukan peninjauan kembali dari perda nomor 6 tahun 2014 terkait RTRW, dan hasil untuk peninjauan kembali tahun 2019 itu bahwa pelanggaran ketidaktaatan kita terhadap RTRW itu sudah diatas 40 persen,” sebutnya.
Lanjut oleh karena itu, wajib hukumnya bagi pemerintah daerah Kabupaten Bangka Selatan untuk mencabut perda yang sudah ada sehingga kegiatan revisi ini merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan untuk mencabut perda tersebut.
“Otomatis berubah ketika itu ada perubahan titik tata ruang, karena memang selama dari kurun waktu 2014 sampai 2022 dinamika pembangunan Kabupaten Bangka Selatan ini sudah banyak berubah, dan itu bisa kita lihat mungkin dulunya itu tidak mengenali adanya tambak dan budidaya perikanan di sekitar Kecamatan Tukak Sadai dan sekarang sudah begitu besar terutama juga yang ada di wilayah Toboali,” jelasnya.
Dikatakan Rian Ganesha bahwa untuk dominan dari sektor basis mungkin tidak terlalu banyak perubahan, karena dari sektor perikanan, pariwisata dan pertanian itu tetap menjadi sektor unggulan.
“Yang kita tekankan disini yaitu bagaimana konsistensi kita dari potensi sektor-sektor kompetitif tadi bisa lebih kita maksimalkan serta komitmen dalam perencanaan 20 tahun kedepan sehingga tentunya lebih maksimal dalam pembangunan tata ruang di Bangka Selatan,” terangnya. (EraNews/Leo)














Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.