TOBOALI, ERANEWS.CO.ID – Maraknya jual beli lahan dan penguasaan hutan oleh perusahaan sawit di desa-desa Kabupaten Bangka Selatan diduga menciptakan warisan buruk bagi masyarakat.
Hal ini diungkapkan oleh Matoridi, seorang warga Toboali sekaligus Ketua Forum Tambang Rakyat Bersatu (FTRB), pada Rabu (18/6/2025).
“Ini tentunya sebuah legacy buruk maraknya penguasaan hutan di desa-desa di Bangka Selatan oleh perusahaan,” tegas Matoridi.
Ia sangat menyayangkan kejadian ini, sebab lahan-lahan tidur tersebut tidak akan pernah lagi dimiliki oleh rakyat. Menurutnya, ini adalah bentuk kezaliman terhadap masa depan anak cucu.
“Anak-anak kita nanti akan berkebun di mana lagi, Sementara lahan sudah habis. Anak-anak kita bertambah, beranak cucu, mau ke mana lagi mereka akan bertani,” ujarnya.
Matoridi berharap, para pemegang kebijakan desa seharusnya visioner dan empati terhadap masa depan dan generasi desa.
“Kenapa semua hutannya dijual ke perusahaan sawit, Seharusnya rakyat kita yang berkebun sawit, bukan perusahaan sawit. Atau minimal dibagi dua, atau setengahnya dikelola masyarakat dengan dukungan alat berat perusahaan sawit, sehingga setiap keluarga di desa memiliki lahan kebun gratis, khususnya masyarakat tidak mampu,” kata Matoridi.
Ia juga mengingatkan agar berhati-hati, jangan sampai ke depan terjadi konflik sosial lahan akibat kebutuhan ekonomi yang mendesak. Menurutnya, hal ini akan menjadi warisan buruk bagi para pemimpin desa yang berakibat pada stigma dan sanksi sosial.
“Sudah ada kasus terkait masalah penguasaan lahan seperti di daerah-daerah lain. Sangat disayangkan jika ini terus dilakukan,” pungkasnya. (EraNews/Lew)














Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.