Lestarikan Budaya Festival Mapur Adat Nujuh Jerami

BANGKA, ERANEWS.CO.ID –– Berikut ini akan diulas mengenai Tradisi dan Budaya Nujuh Jerami yang bagi masyarakat di luar pulau Bangka. Maupun sebagian kecil masyarakat di Bangka Belitung sendiri belum mengetahui secara jelas apakah tujuan dari perayaan kegiatan Nujuh Jerami tersebut

Perayaan tersebut sudah dilakukan dan terus-menerus di budayakan hingga saat ini oleh masyarakat di Dusun Air Abik, Desa Gunung Muda, Kecamatan Belinyu sebagai Tradisi dari nenek moyang yang di akui sebagai perayaan yang sakral dan tiap tahun di peringati, Sabtu (240/4/21).

Hal itu diungkapkan oleh Johan sebagai Pengurus Lembaga Adat Mapur (LAM) lembaga yang membidangi dan mengurus adat warisan budaya lokal, yang hingga kini tetap terjaga dan terpelihara, untuk terus di pertahankan oleh masyarakat Dusun Air Abik ini.

Ia mengatakan, pada awalnya prosesi sebelum di lakukan perayaan terlebih dahulu rumah adat di taburkan beras kunyit di seluruh pekarangan rumah yang percaya sebagai pengamanan dari gangguan mahluk halus yang ingin menggangu prosesi perayaan, kemudian ambil lesung dan penumpuk padi dan bunglai (sejenis kunyit) ditumbuk dalam lesung.

“Ini di percaya untuk mengusir dan menjaga rumah dari gangguan mahluk halus, serta untuk mendapat keberkahan atas hasil panen padi yang akan di tumbuk,” terangnya.

Dikatakannya, kemudian padi di tumbuk dalam lesung dengan 2 hingga 3 orang sebanyak 7 kali tumbuk sampai menjadi beras merah kemudian beras di tampil dan saring serta sejuk padi di kumpulkan menjadi satu dan beras merah pun di kimpul jadi satu.

“Ini sebagai berkah bahwa hasil panen padi dapat dijadikan sebagai bahan pokok dan agar hasil padi berikutnya dapat melimpah,” Bebernya.

Labih lanjut padi yang sudah di saring di bungkus dalam daun terung asap dan di masukkan dalam panci yang tahan panas dan 1 butir telur ayam negeri atau kampung dan anak udang yang kecil, dan di berikan kepada alat kerja di sawah seperti pacul, Kampak, dan parang dan alat bantu lainnya seperti lesung, menumbuk dan alu serta saringan.

“Artinya barang-barang tersebut di percaya mempunyai kekuatan supranatural dan dihuni oleh mahluk halus dan agar alat kerja maupun alat bantu tersebut dapat memberikan hasil yang maksimal dari usaha hasil tanam maupun panen padi berikutnya, dan jangan sampai dilanggar,” ujarnya.

Ditambahkan oleh Johan kalau hal tersebut sampai dilanggar maka akan membuat celaka dan bahaya bagi yang punya alat kerja maupun alat bantu yang disebutkan tadi.

“Kalau ini dilanggar maka alat kerja di kebun atau di sawah seperti parang, cangkul tersebut, pada saat akan digunakan disawah atau di kebun akan dapat mencelakai diri kita seperti kaki tersabat parang atau  Kampak saat digunakan akan kena kaki dan berbalik kena kepala dan sebagainya,” tutupnya.

(Eranews/eq)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.