TOBOALI, ERANEWS.CO.ID – Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipidter) Bareskrim Polri terus mempersempit ruang gerak mafia timah lintas negara.
Terbaru, tim penyidik berhasil menyita satu unit kapal beserta mesin tempel di Wilayah Pantai Kubu yang diduga kuat menjadi sarana utama pengangkutan pasir timah ilegal dari Bangka Selatan menuju Malaysia.
Penyitaan ini merupakan babak baru dari pengembangan kasus penyelundupan 7,5 ton pasir timah yang sebelumnya sempat menghebohkan publik pada Oktober 2025 lalu.
Direktur Dittipidter Bareskrim Polri, Brigjen Pol. Moch Irhamni, mengungkapkan bahwa kapal tersebut memiliki peran krusial dalam rantai distribusi ilegal. Kapal ini berfungsi sebagai alat angkut jarak pendek yang membawa muatan dari daratan menuju tengah laut.
”Kapal ini merupakan barang bukti baru dari hasil pengembangan. Modusnya, pasir timah dibawa dari darat ke tengah laut menggunakan kapal ini, kemudian dipindahkan ke kapal yang lebih besar (ship-to-ship) untuk melanjutkan perjalanan ke Malaysia,” jelas Irhamni.
Kasus ini berawal saat Agensi Penguatkuasa Maritim Malaysia (APMM) mencegat sebuah perahu fiberglass tanpa registrasi di perairan Pulau Pemanggil, Johor, pada 13 Oktober 2025. Saat itu, petugas mengamankan 11 Anak Buah Kapal (ABK) asal Indonesia yang kedapatan membawa 7,5 ton pasir timah tanpa dokumen resmi.
Dua dari sebelas ABK tersebut diketahui merupakan warga Toboali, Bangka Selatan. Setelah menjalani proses hukum di negara tetangga, kesebelas orang tersebut akhirnya dipulangkan ke tanah air melalui Pelabuhan Ferry Internasional Batam Center pada akhir Januari 2026.
Selain kapal dan mesin, penyidik juga mengamankan sejumlah barang bukti lainnya, di antaranya:
Sampel Pasir Timah: Sebanyak 50 kilogram pasir timah yang disisihkan oleh otoritas Malaysia sebagai bukti fisik.
Alat Komunikasi: Beberapa ponsel milik pelaku yang kini sedang dibedah secara digital.
Brigjen Pol. Moch Irhamni menegaskan bahwa fokus penyidikan saat ini adalah melacak keberadaan aktor intelektual atau pelaku utama yang diduga mengendalikan operasi ini dari wilayah Kabupaten Bangka Selatan.
”Kami terus menelusuri alat komunikasi yang disita untuk mengungkap siapa sebenarnya otak di balik penyelundupan lintas negara ini,” pungkasnya. (EraNews/Lew)














Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.