Dilema Covid-19 di Pengujung Tahun 2020

Penulis :Kendedi Mahasiswa Stisipol Pahlawan 12 Sungailiat Bangka

BANGKA BELITUNG, ERANEWS.CO.ID — Desember 2020 menggenapi masa setahun sesudah COVID-19 ditemukan.  Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 1 Desember 2020 menyampaikan perkembangan mutakhir bagaimana pola penyebaran penyakit yang menyebabkan pandemi terbesar selama kita hidup ini.

Berdasar data ilmiah terakhir, penularan utama virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 adalah memang antarmanusia, yaitu bila ada kontak dekat (biasanya sekitar 1 meter) antara orang yang sudah terinfeksi virus dan orang sehat di sekitarnya.

Kemungkinan penularan akan tergantung dari jumlah virus hidup yang dikeluarkan pasien, bagaimana dekat dan lamanya kontak yang terjadi, dan juga situasi lingkungan yang ada. Virus dapat menular ketika batuk, bersin, dan pada beberapa kesempatan ketika  bernyanyi, bernapas keras dan bahkan berbicara. Semua inilah yang menjadi salah satu alasan kenapa kita harus memakai masker dan menjaga jarak.

Data ilmiah sejauh ini menunjukkan bahwa seseorang dapat saja menularkan virus, baik ia dalam keadaan dengan atau tanpa gejala. Tetapi perlu diketahui bahwa data menunjukkan bahwa saat jumlah tertinggi keberadaan virus dalam tubuh pasien adalah beberapa saat sebelum gelaja mulai muncul dan pada saat penyakit di hari ke-5 sampai ke-7. Harus diketahui juga bahwa lamanya hari seseorang yang mungkin menularkan penyakit adalah lebih pendek dari waktu RNA dapat ditemukan, atau test PCR positif. Jadi bisa saja hasil test PCR positif tapi sudah tidak menular lagi ke orang lain.

Data terbaru masa inkubasi COVID-19, lama antara terpapar virus dan timbul gejala, rata-rata adalah 5-6 hari, tapi bisa saja sampai 14 hari, cukup lama memang. Di sisi lain, mungkin juga masa pra gejala, sebelum gejala timbul, seseorang sudah PCR positif dan satu sampai tiga hari sesudahnya barulah gejala mulai timbul.

Ada juga beberapa penelitian tentang penularan dari orang yang tanpa gejala. Juga sudah ditemukan virus “hidup” (viable virus) pada mereka yang tanpa gejala dan dalam masa pra gejala, yang tentunya artinya mereka yang OTG memang dapat menularkan virus SARS CoV 2 penyebab COVID-19 ini. Tetapi memang secara umum penelitian menujukkan bahwa kemungkinan penularan dari mereka yang tanpa gelaja adalah lebih kecil daripada penularan dari mereka yang memang menunjukkan gejala
(Menurut Prof Tjandra Yoga Aditama, Guru Besar Paru FKUI. Mantan Direktur WHO SEARO dan Mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes)

Dampak dari penyebaran virus Covid 19 akibatnya situasi yang semakin sulit dan pergerakan virus yang kian masif, maka dibutuhkan suatu penanganan yang komprehensif baik dari pemerintah, anggota parlemen, swasta, tokoh agama maupun masyarakat secara luas. Semua harus mengambil peran masing-masing sesuai kemampuan dan tanggung jawabnya. Tanpa itu semua sulit bagi bangsa ini untuk terlepas dari jeratan virus corona. Bagi negara dan pemerintah, melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia merupakan suatu kewajiban sebagaimana yang diamanatkan oleh kontistusi dalam pembukaannya, baik langsung maupun tidak langsung yang berhubungan dengan kesehatan.

Hal ini bertujuan untuk memberikan hak mendasar yang seyogiyanya diperoleh oleh masyarakat melalui keberadaan sebuah entitas bernama negara. Sejatinya, pengelolaan kesehatan dari serangan berbagai wabah penyakit menjadi perhatian penting pemerintah sebagai sektor utama pemenuhan hak asasi masyarakat.

Langkah cepat dan tepat pemerintah serta koordinasi yang efektif sangat diperlukan untuk memberikan kepastian dan kenyamanan bagi warga negara terutama dibidang kesehatan saat ini. Asas Keselamatan Rakyat Memberikan perlindungan secara maksimal di sektor kesehatan ditengah pandemi corona tentu bukan hal yang harus diperdebatkan lagi, mengambil langkah cepat dan tepat menjadi solusi untuk menyelesaikan semakin meluasnya wabah tersebut. Memberikan perlindungan kepada masyarakat dalam sebuah negara hukum tentu harus mengacu kepada asas keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi (Salus Populi Suprema Lex Esto) sebagaimana yang diungkapkan oleh Marcus Tullius Cicero.

Memaknai asas ini bahwa suatu bangsa yang berdaulat, maka pemerintah akan menggunakan segala daya dan upaya untuk mewujudkan bagaimana wabah tersebut tidak menyebar dan itu dilakukan atas nama kepentingan bangsa, negara demi keselamatan rakyat. Prinsip ini mengutamakan kepentingan masyarakat, kesejahteraan dan kemakmuran rakyat yang merupakan esensi tujuan kita bernegara.

Dalam penjelasan Undang- Undang No. 4 Tahun 1984 Tentang Wabah Penyakit Menular dijelaskan bahwa perbaikan kesehatan rakyat   dilakukan melalui upaya peningkatan, pencegahan, penyembuhan, dan pemulihan dengan mendekatkan dan memeratakan pelayanan kesehatan  kepada rakyat Indonesia. Apabila ditinjau secara khusus, pada dasarnya upaya kesehatan menyangkut semua segi kehidupan, baik di masa lalu, sekarang maupun di masa yang akan datang serta memiliki ruang lingkup  dan jangkauan yang  sangat luas.  Salah satu bidang dari upaya kesehatan adalah pemberantasan penyakit menular. Masalah wabah dan penanggulangannya  tidaklah berdiri sendiri,  tetapi merupakan bagian dari upaya kesehatan secara nasional yang mempunyai kaitan dengan sektor lainnya di luar kesehatan, serta tidak terlepas dari keterpaduan pembangunan nasional. Oleh karena itu penanggulangannya harus dilakukan secara dini.

Penanggulangan secara dini dimaksudkan untuk mencegah timbulnya kejadian luar biasa dari suatu penyakit wabah yang dapat menjurus terjadinya wabah yang dapat mengakibatkan malapetaka. Untuk mewujudkan itu semua maka diperlukan peran pemerintah yang terpadu dengan pelibatan masyarakat secara pro aktif dalam pencegahan dan penanganan wabah pandemi corona saat ini.

Peran serta aktif masyarakat juga perlu ditingkatkan untuk melakukan pembatasan diri terkait penyebaran virus corona. kepatuhan masyarakat menjadi upaya serius untuk memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19. Usaha untuk mematuhi segala himbauan pemerintah menjadi suatu kewajiban hukum bagi masyarakat sekaligus membuktikan perannya terhadap negara untuk menuju masyarakat yang sehat dan sejahtera. Segala usaha pencegahan patut dilakukan secara Bersama dengan Menerapkan Prokes Covid 19  “3 M” dan “M lainnya”. Artinya kita semua tetap menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan dan juga memelihara etika batuk, menyampaikan salam dengan cara baik dan senantiasa menjaga pola hidup bersih sehat serta doa kepada Yang Maha Kuasa agar Terlindung dari Wabah Covid 19 tersebut.

(eranews)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Tercepat Memberitakan

X
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.