TOBOALI, ERANEWS.CO.ID – Harga komoditas timah dunia terus menunjukkan tren penguatan signifikan, bahkan dilaporkan tengah menguji level tertinggi dalam tujuh bulan terakhir di bulan November 2025.
Penguatan ini didorong oleh kombinasi antara prospek permintaan yang kuat dari sektor teknologi dan pembatasan pasokan yang berkelanjutan dari produsen utama seperti Indonesia dan Myanmar.
Pada periode pertengahan November 2025, harga timah berjangka di pasar global (LME) dilaporkan telah melampaui level $37.000 per ton.
Tren kenaikan harga timah ini didasarkan pada dua faktor utama, sebagaimana dicatat oleh analis pasar:
Gangguan dan Pengetatan Pasokan dari Produsen Utama:
Indonesia (Pemasok terbesar kedua dunia): Penertiban tambang timah ilegal di Bangka Belitung, termasuk perintah penutupan 1.000 tambang ilegal di Sumatera, memicu pengurangan besar dalam volume pasokan global.
Myanmar (Produsen teratas): Pasokan dari Myanmar belum sepenuhnya pulih. Tambang kunci Man Maw tetap ditutup untuk audit sumber daya, diperparah oleh hambatan logistik akibat musim hujan dan kerusakan infrastruktur.
Permintaan Kuat dari Sektor Teknologi Tinggi:
Meskipun pasokan ketat, konsumsi timah diperkirakan akan tetap kuat, terutama karena penggunaannya yang melimpah dalam pengembangan pusat data, kendaraan listrik (EV), dan teknologi elektrifikasi lainnya. Timah adalah komponen kunci dalam bahan solder untuk elektronik dan semikonduktor.
Untuk diketahui, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung juga merupakan salah satu penopang utama produksi dan pasokan Timah dunia. (EraNews/Lew)














Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.