PANGKALPINANG, ERANEWS.CO.ID – Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan (Basel) melalui Dinas Pertanian dan Perikanan Basel menunjukkan keseriusan dalam menggarap potensi budidaya ikan nila (tilapia) sebagai komoditas ekspor.
Hal ini terungkap dalam Focus Group Discussion (FGD) dan Webinar Ekonomi Biru yang diselenggarakan oleh Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (Kanwil DJPb) Provinsi Bangka Belitung pada Kamis (6/11/2025).
FGD yang dibuka oleh Kepala Kanwil DJPb, Syukriah HG, dan dihadiri oleh Asisten III Provinsi Bangka Belitung, Yunan Helmi, serta perwakilan dari Sekretariat Ditjen Perbendaharaan dan Biro Perencanaan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), bertujuan untuk mendorong peningkatan produksi dan ekspor perikanan budidaya.
Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Bangka Selatan, Rispandika, menyampaikan bahwa diskusi ini secara spesifik menyoroti potensi perikanan budidaya, khususnya ikan nila.
”Dari pemaparan yang diinisiasikan oleh Kanwil DJPb Provinsi Bangka Belitung bekerjasama dengan Kepala Biro Perencanaan Kementerian Kelautan Perikanan, disimpulkan bahwa budidaya ikan nila ini merupakan satu peluang yang sangat penting dan sangat perlu ditingkatkan karena kebutuhan dunia untuk ekspor ikan nila (tilapia) sangat tinggi,” ujar Rispandika pada Jumat (7/11/2025).
Ia menambahkan, saat ini Provinsi Bangka Belitung belum memiliki produk nila yang digunakan untuk ekspor. Kabupaten Bangka Tengah disebut sebagai kabupaten dengan produksi nila tertinggi di provinsi tersebut, menjadikannya acuan.
Dalam forum tersebut, Rispandika juga memaparkan kendala utama yang dihadapi oleh para petambak di Bangka Selatan, yaitu masalah pakan yang menguasai hingga 70% dari biaya produksi.
Untuk mengatasi hal ini, Bangka Selatan berencana melakukan komunikasi dan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah untuk mempelajari dan mengimplementasikan gerakan pengamanan diri terkait penyediaan pakan.
”Nantinya, kita akan ada sedikit komunikasi dan koordinasi dengan pihak Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah untuk bagaimana gerakan pengamanan diri ini, supaya salah satu yang menjadi momok para petambak ikan ini—pakan yang 70% menguasai—bisa teratasi dan tidak menjadi beban,” jelas Rispandika.
Rispandika menyebutkan bahwa potensi budidaya ikan nila di Bangka Selatan cukup tinggi, tersebar di beberapa lokasi seperti daerah Rias, Limus, Desa Serdang, Pangkal Buluh, Kecamatan Payung, Simparimba, dan Tukak Sadai.
Berita baik datang dari Kanwil DJPb yang memfasilitasi komunikasi dengan KKP. Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan mendapat informasi mengenai adanya program bantuan.
”Alhamdulillah, kita diberi kemudahan melalui bantuan dari DJPb Kanwil Perbendaharaan Provinsi Bangka Belitung melalui Ibu Dr. Syukriah, langsung diterima oleh Kabiro Perencanaan Kementerian Kelautan. Tahun 2026 ini ada 500 titik yang dibantu oleh Kementerian Kelautan untuk kita bisa mengembangkan produksi potensi ikan nila,” ungkapnya.
Menindaklanjuti peluang ini, Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan akan segera mengajukan proposal dan melakukan pemetaan potensi untuk memastikan Bangka Selatan masuk dalam program pengembangan petambak ikan budidaya nila pada tahun 2026.
”Kita akan menyusun, memetakan, keyakinan kita untuk mengatasi daripada kekurangan ikan tilavia atau nila ini,” pungkas Rispandika. (EraNews/Lew)














Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.