Menggagas Desa Devisa Tilapia: Alternatif Penerapan Ekonomi Biru di Bangka Belitung

Penulis: Arius Vitra, Kepala Seksi Analisa Statistik dan Penyusunan Laporan Keuangan, Kanwil DJPb Provinsi Bangka Belitung

​PANGKALPINANG, ERANEWS.CO.ID – Penerapan konsep ekonomi biru di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menghadapi tantangan serius dalam sektor perikanan tangkap.

Dengan capaian tangkapan ikan laut di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 711 yang sudah mendekati kuota maksimal, yakni 93% dari Jumlah Tangkapan yang Diperbolehkan (JTB) 911.534 ton, diperlukan strategi diversifikasi untuk mengurangi tekanan eksploitasi laut dan meningkatkan kesejahteraan nelayan.

Salah satu solusi menjanjikan adalah pengembangan perikanan budidaya, khususnya budidaya ikan nila (tilapia) berorientasi ekspor, melalui program Desa Devisa.

​Tantangan Perikanan Tangkap dan Potensi Budidaya

​Bangka Belitung, yang berada di Zona 1 WPPNRI 711, menduduki urutan kedua terbesar dalam jumlah tangkapan ikan di laut pada tahun 2023, mencapai lebih dari 228 ribu ton. Namun, indeks tangkapan ikan (jumlah tangkapan per nelayan) hanya 2,61 ton per tahun, menempati urutan kedua terbawah di zona tersebut.

Dinas KKP Provinsi Bangka Belitung juga mencatat kesulitan nelayan kecil menangkap ikan di zona perairan dangkal (hingga 12 mil laut).

​Kondisi ini menegaskan perlunya alternatif pengembangan ekonomi biru. Sayangnya, sektor perikanan budidaya di Bangka Belitung masih kurang diminati, tercermin dari Nilai Tukar Budidaya Ikan (NTBI) yang konsisten berada di bawah angka 100 selama tahun 2024–2025, jauh di bawah Nilai Tukar Nelayan (NTN).

Dominasi budidaya udang vaname yang padat modal (80,70% dari total produksi budidaya) menunjukkan celah untuk mengembangkan komoditas padat karya yang dapat dirintis oleh kelompok petani atau nelayan kecil, seperti nila, lele, dan patin.

​Tilapia: Komoditas Padat Karya dan Peluang Pasar

​Dari komoditas padat karya, ikan nila (tilapia) dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara komunal. Peluang ini didukung oleh dua momentum strategis: Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan potensi ekspor ke mancanegara.

​1. Peluang Kemitraan Program MBG
Program MBG membuka peluang bagi pembudidaya tilapia untuk menjadi mitra Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG). Dengan proyeksi kebutuhan protein 50 gram per siswa per hari, satu unit SPPG yang melayani 3.000 siswa dapat membutuhkan sekitar 0,6 ton ikan nila per bulan. Jika direncanakan dibangun 143 unit SPPG di Bangka Belitung, potensi permintaan ikan nila mencapai 172,8 ton hingga 1029,6 ton per tahun. Mendorong kemitraan dengan SPPG ini dapat menjadi strategi awal untuk menjamin produksi tilapia yang terencana dan berkelanjutan bagi petani.

​2. Potensi Ekspor Global
Indonesia merupakan produsen tilapia terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok (FAO 2022). Kinerja ekspor tilapia Indonesia menunjukkan tren kenaikan, dengan tujuan utama Amerika Serikat (65,64%), Kanada (14,03%), dan Uni Eropa (10,59%).
Tingginya permintaan pasar global menjadikan tilapia komoditas yang ideal untuk dikembangkan melalui skema Desa Devisa.

​Menggagas Desa Devisa Tilapia di Bangka Tengah

​Desa Devisa merupakan program pemberdayaan yang berfokus pada pengembangan produk unggulan desa untuk tujuan ekspor, dengan pendampingan dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank.

​Dengan total produksi tilapia Bangka Belitung di tahun 2023 yang mencapai 381,23 ton, Kabupaten Bangka Tengah menjadi sentra utama dengan kontribusi signifikan sebesar 246,01 ton (64,53%). Berdasarkan data ini, Kabupaten Bangka Tengah dinilai paling berpotensi untuk dijadikan proyek percontohan (pilot project) dalam merintis Desa Devisa komoditas tilapia.

​Untuk mewujudkannya, petani pembudidaya tilapia perlu dihimpun dalam badan hukum berbasis komunal, seperti koperasi pembudidaya tilapia. Model Desa Devisa yang sukses di Bangka Tengah selanjutnya dapat dijadikan benchmarking untuk kabupaten lainnya.

​Industri Pendukung yang Mendesak
​Keberhasilan Desa Devisa Tilapia harus didukung oleh persiapan industri pendukung yang matang:
​Industri Pembenihan Ikan: Perlu disiapkan sentra-sentra pembenihan yang fokus pada strain tilapia unggul, yang mampu tumbuh hingga bobot di atas 1000 gram dalam enam bulan, sesuai dengan standar ekspor.

​Produksi Garam Krosok: Budidaya perikanan darat membutuhkan garam krosok. Kajian ilmiah menunjukkan bahwa beberapa pantai di Bangka Tengah, seperti Pantai Takari dan Pantai Lubuk, berpotensi dikembangkan menjadi tambak garam dengan kualitas yang memadai.

​Pasokan Pakan Ikan: Pakan ikan adalah komponen biaya yang dominan. Ketersediaan pakan berkualitas dengan harga terjangkau perlu dijamin.

Selain itu, potensi pemanfaatan ikan rucah (ikan sisa hasil tangkapan laut) sebagai bahan baku tepung ikan untuk pakan alternatif juga perlu dikaji lebih lanjut.

​Pengembangan Desa Devisa Tilapia menjadi langkah strategis bagi Bangka Belitung untuk membangun kesejahteraan nelayan melalui pendekatan padat karya berbasis komunal, mengurangi tekanan pada sumber daya laut, dan turut serta dalam upaya peningkatan devisa negara melalui ekspor komoditas perikanan yang berkelanjutan. (EraNews/Lew)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.