Eksistensi Pemandian Aek Lubuk Jung dan Manfaatnya Terhadap Desa Terak Kabupaten Bangka Tengah

Foto ; Ist

Penulis : Ari, Surya Ramadhan, Hanafi Jum’ah, Muhammad Ihsan al Ghifari, Irma Novitri

ERANEWS.CO.ID — Provinsi Bangka Belitung adalah salah satu pulau yang ada di Indonesia. Provinsi Bangka Belitung terdiri dari dua pulau inti, yaitu pulau Bangka dan pulau Belitung.

Selain menjadi daerah penghasil timah, pulau Bangka juga memiliki berbagai objek wisata seperti, wisata pantai, pemandian, bukit, dan lain sebagainya. Salah satu wisata yang ada di pulau Bangka adalah Pemandian Aek Lubuk Jung yang berlokasi di Desa Terak, Kecamatan Simpang Katis, Kabupaten Bangka Tengah.

Berdasarkan profil Desa Terak tahun 2020, desa ini mempunyai berbagai macam potensi lokal seperti objek wisata Taman Hutan Raya (Tahura) Gunung Mangkol, air terjun, pemandian air panas, perkebunan dan lain-lainnya.

Pemandian ini tidak jauh berbeda dengan pemandian air terjun lainnya yang banyak ditemukan di wilayah Kepulauan Bangka Belitung.

Pemandian Aek Lubuk Jung sangat ramai dikunjungi oleh warga yang tinggal di daerah tersebut maupun warga yang berasal dari pangkalpinang serta daerah lainnya. Hal ini dikarenakan banyaknya wisatawan yang datang. Dalam wawancara yang dilakukan oleh Jurnalis Zen Adebi (2022) terhadap salah satu pengunjung pemandian Aek Lubuk Jung Yolanda (34) pada saat itu Ia beserta keluarga besarnya berlibur bersama, Jauh-jauh mereka datang dari selindung kota pangkalpinang untuk menikmati kesegaran air dan keindahan pemandian Aek Lubuk Jung, dalam wawancara tersebut Ia mengatakan Jika Anda berencana untuk mengunjungi objek wisata Pemandian Aek Lubuk Jung, disarankan untuk datang di pagi hari.

Pasalnya, jika Anda datang di siang hari tempat tersebut sudah mulai ramai dikunjungi Bahkan semakin sore jumlah pengunjung akan semakin banyak.Sehingga bisa dikatakan dari pernyataan tersebut pemandian ini tidak pernah sepi pengunjung baik di hari weekend ataupun weekday.

Selain itu, alasan mengapa banyaknya wisatawan yang berkunjung ke pemandian Aek Lubuk Jung dikarenakan tingkat kedalaman air yang variatif menjadikan pemandian ini cocok untuk berbagai kalangan usia, baik anak kecil, remaja, orang dewasa ataupun sekedar untuk berenang dan menikmati keindahan alam sekitar.

Pemandian Aek Lubuk Jung merupakan salah satu destinasi wisata alam yang keberadaannya tidak hanya memberikan keindahan alam semata, tetapi juga memberikan nilai sosial dan ekonomi bagi masyarakat di Desa Terak.

Pemandian Aek Lubuk Jung terkenal dengan airnya yang jernih dan segar serta dikelilingi oleh hutan yang masih asri. Walaupun, air terjun ini kecil karena alur yang berasal dari hulu sungai. Namun, eksistensi pemandian ini menjadi salah satu daya tarik terhadap para wisatawan lokal dan juga luar daearah.

Menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan, daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisata. Dalam hal ini daya tarik diperlukan dalam pengembangan desa wisata sebagai bagian dari ekowisata berbasis destinasi wisata di desa (Denik Firia, 2017).

Pemandian Aek Lubuk Jung tidak hanya berfungsi sebagai tempat wisata tetapi juga memiliki banyak manfaat bagi masyarakat sekitar, yaitu baik dari segi ekonomi, sosio-kultural, dan lingkungan.

Dengan adanya upaya pengelolaan berkelanjutan sangat penting guna memastikan bahwa eksistensi pemandian ini dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang bagi desa Terak.

Keberadaan pemandian Aek Lubuk Jung dapat memberikan dampak ekonomi yang signifikan terhadap masyarakat desa Terak. Menurut Harahap dan Fauzi (2022) menunjukkan bahwa dengan adanya pengembangan destinasi wisata di daerah pedesaan dapat menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi lokal, termasuk penciptaan lapangan kerja dan juga peningkatan pendapatan masyarakat.

Hal ini dikarenakan hasil dari terwujudnya melalui berbagai aktivitas ekonomi yang muncul sebagai multiplier effect dari keberadaan pemandian Aek Lubuk Jung di desa Terak.

Multiplier effect terjadi ketika perubahan dalam pengeluaran suatu sektor ekonomi menghasilkan perubahan yang lebih besar dalam pendapatan nasional. Salah satu contoh manfaat ekonomi dari pariwisata ini adalah munculnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar area pemandian yang mana menjadi sumber pendapatan baru bagi warga setempat.

Menurut Nurhayati (2019), pendapatan rata-rata dari hasil usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di sekitar objek wisata alam dapat meningkat sekitar 60% yakni selama musim liburan dibandingkan dengan hari biasa.

Sementara itu, dari perspektif sosio-kultur, pemandian Aek Lubuk Jung telah menjadi medium dalam pelestarian nilai-nilai budaya lokal dan juga penguatan identitas masyarakat desa Terak.

Wisata pemandian Aek Lubuk Jung menjadi wadah untuk mempromosikan kearifan lokal serta tradisi dalam masyarakat setempat. Selain itu, adanya pengembangan pemandian Aek Lubuk Jung juga mendorong penguatan modal sosial di antara warga desa Terak. Berdasarkan penelitian Saprani (2023), pembentukan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) di desa-desa yang mempunyai destinasi wisata alam telah meningkatkan kohesi sosial dan semangat gotong royong dalam masyarakat tersebut.

Di mana keputusan-keputusan penting terkait pengembangan destinasi diambil melalui musyawarah dan partisipasi aktif warga.

Keberadaan pemandian Aek Lubuk Jung mendorong upaya konservasi lingkungan yang lebih sistematis di desa Terak. Pengembangan ekowisata di kawasan pedesaan dapat menjadi kelestarian sumber daya alam.

Hal ini karena masyarakat memahami bahwa keberlanjutan ekonomi pariwisata bergantung pada kualitas lingkungan yang terjaga. Kesadaran ini terwujud dalam berbagai program konservasi yang diinisiasi oleh pokdarwis dan pemerintah desa, contohnya program penanaman pohon endemik di sekitar daerah aliran sungai Aek Lubuk Jung, adanya larangan penambangan ilegal di hulu sungai, serta pengelolaan sampah terpadu.

Dengan adanya implementasi program-program tersebut dapat meningkatkan kualitas lingkungan di kawasan wisata alam Bangka Belitung, termasuk di antaranya perbaikan kualitas air dan peningkatan keanekaragaman hayati.

Daftar Pustaka

Dea, T., Fitriani, K., Rohim, A., Hayati, L., Saputra, P.P. (2023). Modal Sosial Komoditas Bujang Squad dalam Pengembangan Wisata Tahura Gunung Mangkol di Desa Terak Kabupaten Bangka Tengah. Jurnal Ideas, Pendidikan, Sosial dan Budaya. 9(1), 57-62. URL:jurnal.ideaspublishing.co.id

Denik Fitria. (2017). Eksistensi Kampung Wisata Kungkun Desa Punten Kecamatan Bumiaji Kota Batu.

Harahap, S. S., & Fauzi, A. (2022). Dampak Ekonomi Pengembangan Destinasi Wisata Pedesaan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Jurnal Ekonomi Regional, 13(2), 87-102.

Harjito, R., Sukmawati, A., & Cahyono, B. (2019). Preferensi Wisatawan Terhadap Objek Wisata Alam di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Jurnal Gografis Indonesia, 33(2), 128-143.

Nurhayati, S. (2019). Analisis Pendapatan UMKM di Sekitar Objek Wisata Alam Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Jurnal Ekonomi Lokal, 7(1), 56-71.

Pratiwi, S., & Gunawan, B. (2018). Ekowisata dan Konservasi Lingkungan: Studi Kasus Pengelolaan Wisata Alam di Bangka Belitung. Jurnal Ilmu Lingkungan dan Sumberdaya Alam, 6(2), 112-127.

Sepriani, E. (2023). Penguatan Modal Sosial Melalui Kelompok Sadar Wisata di Desa-Desa Wisata Bangka Belitung. Jurnal Sosiologi Pedesaan. 7(1), 45-60.

Widodo, S., Santoso, H., & Indrayanti, R. (2022). Efektivitasi Program Konservasi di Kawasan Wisata Alam Bangka Belitung. Jurnal Konservasi Sumberdaya Alam, 13(1), 56-71.

Zen Adebi. (2022). Objek Wisata Pemandian Lubuk Jung Ramai Dikunjungi Wisatawan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.